Sejarah


SEKOLAH INDONESIA MOSKOW


Selayang Pandang

Adalah Bapak H. Adam Malik, yang waktu itu menjabat sebagai Duta Besar dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Uni Sovyet yang memprakarsai didirikannya Sekolah Indonesia di Moskow, mengingat kebutuhan akan pendidikan putra-putri Indonesia di KBRI Moskow sangat mendesak. Dengan jumlah 12 orang siswa dan 3 orang guru, Sekolah Indonesia Moskow saat itu membuka jenjang pendidikan dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Gejolak sosial dan politik di tanah air pada tahun 1965 hingga tahun 1968 semakin memantapkan peranan Sekolah Indonesia Moskow. Perubahan arah kebijakan politik tersebut mensyaratkan agar putra-putri Indonesia yang berada di luar negeri, khususnya di negara-negara yang berhaluan kiri, tidak disekolahkan di sekolah setempat. Sekolah Indonesia Moskow yang telah beroperasi selama lima tahun kemudian resmi diakui sebagai Sekolah Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidian dan Kebudayaan Nomor: 077/1968 tertanggal 1 Agustus 1968. Sejak saat itu pula SIM memiliki legalitas formal untuk menyelenggarakan pendidikan mulai dari Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas. SKB Menlu dan Mendikbud No. 191/81/01 dan No. 151/U/1981, 22 Januari 1981 semakin mempertegas keberadaan SIM, sekaligus pengakuan formal dibutuhkannya Sekolah Indonesia Moskow

Dalam perkembangannya kemudian, Sekolah Indonesia Moskow tidak hanya melayani pendidikan putra-putri pegawai KBRI Moskow, tetapi juga putra-putri warga Indonesia yang berdomisili di Uni Sovyet. Tercatat, pada tahun 1975, SIM memiliki jumlah guru sebanyak 12 orang dengan jumlah siswa 68 orang. Jumlah terbanyak sepanjang sejarah Sekolah Indonesia Moskow. Sedangkan jumlah siswa paling sedikit yang tercatat adalah 18 orang siswa pada tahun ajaran 2002 — 2003. Sedangkan tahun ajaran 2008 — 2009 ini, jumlah siswa SIM adalah 38 orang dengan 13 orang guru. Empat orang guru PNS diperbantukan dari Indonesia (termasuk Kepala Sekolah) dan selebihnya adalah guru tetap yang diangkat oleh KBRI Moskow serta guru honor yang dibiayai oleh Komite Sekolah.
 

Aktivitas

Setelah Uni Sovyet bubar, Sekolah Indonesia Moskow mulai memiliki keleluasaan mengadakan kegiatan di luar sekolah. Kunjungan ke berbagai museum dan tempat bersejarah menjadi agenda tahunan. Pada bulan Juni 1993 Sekolah Indonesia Moskow mengadakan perjalanan menyusuri Sungai Volga selama 9 hari 8 malam, mengunjungi kota-kota bersejarah : Uglich, Yaroslav, Kostroma, Plyos,dan Nizhni Novgorad. Pada tahun 1994, Sekolah Indonesia Moskow melakukan lawatan ke koleganya di Sekolah Indonesia Praha, Cekoslovakia. Guru-guru Sekolah Indonesia Moskow pernah pula berkunjung ke Sekolah Indonesia Nederland, di Wassenar pada tahun 1995.

Dalam upaya mendukung program promosi budaya Indonesia, siswa-siswi Sekolah Indonesia Moskow selalu ambil bagian dalam pergelaran seni dan budaya yang dilaksanakan oleh KBRI Moskow. Mereka dilatih berbagai macam atraksi seni dan budaya Indonesia, seperti : Kolintang, gamelan (Bali dan Jawa), angklung, berbagai tarian nusantara, dan lagu-lagu daerah. Sejak tahun 1992, siswa-siswi Sekolah Indonesia Moskow kerap mengikuti kegiatan pentas seni8 budaya di beberapa kota besar di Rusia, seperti Moskow, St. Petersburg, Krasnogorod, Tula, Samara, Soci, hingga ke Vladiwostok. Bahkan pentas kebudayaan pernah pula ditampilkan siswa-siswi Sekolah Indonesia Moskow di Helshinki, Finland pada September 1995.

Moskow, 08 April 2009