Sambutan Duta Besar

Seperempat abad silam, Alvin Toffler menyedot perhatian. Lewat karyanya: The Third Wave, ia menegaskan bahwa masa depan ditentukan oleh informasi. Kejayaan sebuah bangsa atau negara kelak, tergantung seberapa besar informasi yang dimilikinya. Adakah yang membantah thesis ini? Jawabannya, tidak. Kini, kita semua mengamini Toffler.

Thesis yang menjadi visi besar Toffler ini, disempurnakan oleh kemajuan dan kecanggihan teknologi komunikasi kita sekarang, sebagai instrumen untuk memberi dan menerima informasi. Kini, seolah segalanya jadi bisa terpenetrasi. Teknologi Informasi dan Komunikasi membuat negara satu dengan negara lain, telah kehilangan tapal batas dan konsep kedaulatan fisik pun jadi nisbi adanya. Maka, para ahli komunikasi berkesimpulan, dunia sekarang hanyalah sebuah desa kecil (small village), dimana setiap orang dalam desa itu, saling mengenal dan baur.

Sekolah Indonesia Moskow (SIM), adalah bagian dari perubahan spektakuler itu. Nun jauh dari tanah air, ia tegak tengadah, dengan infrastruktur yang hampir dikategorikan: ala kadarnya. Namun, SIM tak pernah kehilangan gairah dan alpa dari arus perubahan. Mata rantai sejarah pendiriannya di awal tahun 1960-an, tetap saja dijaga, tanpa pernah merasa lesu dan tertatih-tatih. Semangatnya untuk mendidik dan mendidik, adalah semangat Pak Arfan dan entusiasme Bu Muslimah yang diabadikan dan dinukilkan dalam film Laskar Pelangi.

Dari perspektif di atas, guru-guru SIM yang bersemangat Pak Arfan dan Bu Muslimah itu, adalah bagian dari orang-orang yang dibayangkan oleh Toffler: harus menguasai informasi. Website SIM: www.simoskow.sch.id yang diluncurkannya itu, adalah pengabsah tentang komitmen untuk menjawab arus perubahan dan tantangan kekinian itu. Mereka adalah bagian dari gerbong yang meluncur untuk sebuah perubahan dashyat.

Sekarang, saya ingin bicara khusus tentang SIM itu sendiri. Ini adalah sebuah sekolah Indonesia satu-satunya di Federasi Rusia. Di sinilah masalah-masalah ke-Indonesia-an dan pengetahuan disebarkan. Makanan ilmu pengetahuan yang dinikmati oleh para murid, diracik, diolah, dan dimasak oleh para guru SIM di tempat yang amat sederhana, di Moskow. Dengan jumlah murid yang minim, SIM tetap saja selalu eksis dari dulu hingga kini. Jumlah murid memang menentukan dinamika pergerakan sekolah ini, karena terkait dengan keberlangsungan sekolah, tetapi tidak menjadi kendala bagi para guru untuk tetap memberikan layanan terbaiknya.

Tidak heran, meski berada dalam situasi yang serba minim, anak-anak SIM masih selalu saja panen prestasi. Berbagai pertandingan nasional yang diikuti di tanah air, dengan mudah dinujum, pasti ada anak-anak SIM yang juara, di berbagai perlombaan. Mengapa? Ya itu tadi, semangat Pak Arfan dan Bu Muslimah selalu bersemai dalam diri para guru SIM.

Bagi para guru SIM, gedung sekolah yang amat pas-pasan itu, seolah bukan sebuah keprihatinan. Mereka menyiasatinya dengan teknologi website, untuk tetap menyebarkan ilmu pengetahuan kepada para murid mereka, dan juga kepada publik. Mereka membawa murid-murid kepada sebuah jenjang peradaban yang lebih tinggi, menggunakan teknologi yang tidak terikat dengan hukum rentang waktu dan jarak ruang. Mereka meningkatkan mutu sekolah mereka dengan cara modern. Bukan lagi cara Pak Ambo Upe atau Bu Indo Logo yang berdiri di depan kelas, dengan buku kumal, lalu  mendikte murid-murid mereka, yang wajib duduk dengan sebelah tangan terlipat di atas  meja. SIM mengajari murid dengan pilihan dan alternatif, tergantung keinginan murid. Itulah teknologi, dan begitulah SIM.

 

SELAMAT!

Hamid Awaludin

Duta Besar Luar Biasa / Berkuasa Penuh

Republik Indonesia untuk Federasi Rusia dan Belarusia